Warning…Jakarta Bakal Tenggelam…

Jakarta merupakan kota terbesar kedua di Asia yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Ini tidak lepas dari udara tercemar Jakarta yang sudah sedemikian parah. Sejak akhir tahun 2011 yg lalu, banjir bukan merupakan hal baru bagi penduduk jakarta. Hampir dipastikan, jika terjadi hujan, maka jakarta akan dilanda banjir. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan macet yang sangat sangat panjang dan lamaaaaaaa…..Malahan, sempat pada saat itu, supir taxi disebelah motor gw ngomong “Waduh…klo uda gini, bakal PAMER PAHA dah…” Gw nanya “Maksudnya bang ??” Dia menjawab “PAdat MERayap tanPA HArapan…” Dan hal tersebutpun memang terjadi,PAMER PAHA dimana mana…

Trus…Kenapa jakarta bisa banjir ????? Bukannya udah ada BKT dan BKB yak ????? So…??? Darimana asal muasal banjir banjir yg menyebabkan semua penduduk Jakarta harus PAMER PAHA ????

 

Gini ceritanya : (Rada serius dikit yah…Ilmiah nich gan…Hehehehehehe…)

 

Setiap musim tiba Jakarta selalu dilanda Banjir. Banjir tersebut diakibatkan curah hujan yang cukup tinggi dan atau di daerah Bogor yang curah hujannya tinggi. Hal tersebut akan diperparah bila Jakarta dan Bogor secara bersamaan hujan dengan curah yg cukup tinggi. Belum lagi siklus banjir 5 taunan yg cukup meresahkan. Sebenarnya pemerintah sudah mengantisipasi hal tersebut dengan cara membuat BKT dan BKB. Tetapi, belakangan ini, tetap saja banjir. Malahan diperparah dengan macet + angin kencang. Pohon dan papan reklame tumbang yang memperparah kemacetan.Secara topografi, jakarta terletak dipinggir laut. Berikut beberapa penyebab Jakarta terus dilanda banjir :

 

1.  Kondisi Beberapa Lahan di Jakarta Labil

Pakar Geotenik dari ITB, Masyhur Irsyam mengatakan “Kondisi tanah di jakarta terus mengalami penurunan. Jakarta terjadi konsolidasi tanah lunak yang turun 5 sampai 10 sentimeter per tahun hal ini membuat kekuatan tanahnya makin lama akan semakin meningkat. Kejadian ini dalam istilah geoteknik disebut “Drained Condition”. Dan jika tidak terjadi perubahan lingkungan, semakin lama timbunan badan jalan akan semakin stabil”.

 

2. Pembangunan Gedung Gedung Pencakar Langit di Jakarta yang Sangat Banyak.

Semakin tinggi suatu gedung, maka beban yg akan diterima tanah-pun akan semakin besar yang akan berujung pada penurunan tanah. Hal tersebut memang tidak akan terasa tiap hari. Tapi, coba dilakukan penelitian akan hal tersebut,maka akan diperoleh sebuah hasil yg mengagetkan. Beberapa pakar lingkungan mengatakan bahwa kondisi tanah Jakarta saat ini setiap tahunnya mengalami penurunan hingga 10 sentimeter. Walaupun ini secara pelan-pelan tapi pasti.

 

3. Semakin Susah Ditemukan Kawasan Terbuka Hijau Sebagai Daerah Resapan Air Hujan

Kawasan hijau terbuka sebenarnya sangat penting. Kawasan tersebut bisa dijadikan sebagai daerah resapan ketika terjadi hujan deras, sehingga air hujan yg turun akan meresap/masuk ke dalam tanah, sehingga tidak akan menyebabkan banjir. Tetapi apa yg terjadi ?? Lahan lahan hijau,tanah kosong ataupun areal terbuka di Jakarta semakin susah kita temui. Bila terdapat tanah kosong,sudah dapat dipastikan di lahan tersebut akan dibangun mall/kantor/apartemen/gedung gedung pencakar langit. Bila hal tersebut terjadi,maka akan berkorelasi pada penyebab nomer 2 diatas. Pembangunan (gedung atau jalan) bisa dibilang makin tak terkontrol. Hutan beton meluas, terutama setelah banyak dibangun kawasan superblok di pusat pusat bisnis Jakarta, seperti di kawasan Sudirman- Thamrin, Kemang, Kuningan, dan sejumlah daerah di Jakarta Barat. Secara gampangnya nich, sudah lahan untuk resapan air diambil, dilahan tersebut, yg seharusnya untuk lahan resapan, malah dibangun gedung gedung tinggi dengan berat yang tidak sedikit. Bila hal tersebut dikaitkan kepada UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang RTH, minimal 30 persen dari wilayah harus merupakan kawasan terbuka hijau. Namun, di Jakarta saat ini baru sekitar sembilan persen, itu pun termasuk danau di Universitas Indonesia dan perkemahan di Cibubur.  Dari yang sedikit itu pun jumlahnya kian tergerus. Di Jakarta Pusat saja, misalnya, 49 ruang terbuka hijau telah beralih fungsi. Tidak hanya di pusat kota. Pantai juga sudah habis dijarah. Sebagai contoh, hutan bakau di Jakarta tinggal 3 kilometer persegi, tak lebih dari 15 persen dibanding pada 1960. Dari laut, Jakarta seperti dibentengi gedung-gedung jangkung.

 

4. Konsumsi Air Tanah Secara Berlebih.

Penduduk Jakarta yang makin taun makin bertambah (baik karena kelahiran maupun pendatang) menuntut konsumsi air tanah yang meningkat pula dari tahun ke tahun. Bertambahnya air tanah tidak sebanding dengan bertambahnya penduduk Jakarta. Akibatnya ???? Struktur tanah yang terdiri dari tanah itu sendiri,air dan bebatuan, hanya unsur “air”-nya saja yang diambil, dieksplorasi untuk kebutuhan penduduk jakarta. Lalu ????? Air tanah akan keluar dan tanah akan menurun. Menurut pendiri Indonesia Water Institut (IWI) Firdaus Ali “Rumor tentang Jakarta Tenggelam bisa saja terjadi pada tahun 2012 jika penggunaan air tanah dilakukan secara berlebihan dan tidak bisa dikontrol oleh pemerintah”. Konsumsi air tanah yang berlebih menyebabkan berkurangnya air tanah yang selama ini menyangga tanah di atasnya. Air tanah yang terus menerus disedot menghasilkan ruang kosong di bawah sana. Penyedotan yang luar biasa itu pada umumnya dilakukan industri besar dan gedung-gedung tinggi (seperti hotel, apartemen, dan perkantoran), yang jumlahnya berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Ruang kosong itu akhirnya tak mampu menahan beban berat di atasnya. Penurunan-pun terjadi.

 

5. Kendaraan yang Semakin Bertambah Dari Tahun ke Tahun.

Sadar atau tidak, jumlah kendaraan di Jakarta selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebenarnya, pemerintah telah mengeluarkan solusi untuk hal ini yaitu dengan mengeluarkan transportasi massal Bus Transjakarta/Busway. Tetapi mengapa masih saja macet dan kendaraan terus bertambah di jalanan ???? Salah satunya adalah kemudahan fasilitas kredit kendaraan bermotor yg disediakan oleh produsen. Hanya dengan uang muka yg tidak sampai 1 juta,kita sudah bisa “membawa pulang” 1 unit sepeda motor. So ???? Banyak orang yg berpikiran : Daripada ribet nunggu busway, lama, kadang juga macet karena jalur busway sering diserobot oleh kendaraan lain, lebih baik ngeluarin duit. Ga sampe sejuta uda bisa punya motor dan bisa dipake’ buat sekeluarga. Dengan makin bertambahnya kendaraan di jalan, hal tersebut berkorelasi dengan makin besarnya beban yg harus diterima oleh jalan tersebut. Jalan yg dibangun dengan permukaan aspal/beton berada di atas tanah. Bila bebannya makin berat ????? Jawabnnya : Tanah secara cepat atau lambat akan mengalami penurunan. 

 

Gw baru baca artikel yang cukup mencengangkan jg sich. Menurut keterangan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta, Ubaidillah, beberapa daerah yang terancam tenggelam adalah kawasan yang berada di pinggiran laut, di antaranya Cilincing, Tanjung Priok, Pademangan, Kampung Bandan, Gunung Sahari, Teluk Gong, dan Pasar Ikan.“Jadi kami mohon sebelum rencana tata ruang tahun berikutnya disahkan, tolong ada perbaikan terlebih dahulu karena ruang terbuka hijau semakin sedikit. Selain itu, penanaman pohon harus lebih ditingkatkan terutama daerah Pluit dan Ancol,” tandasnya. Sejumlah pengamat kembali menyatakan bahwa tanah di Jakarta, terutama bagian barat dan utara, setiap tahun ambles 10-12 sentimeter. Artinya, dalam 10 tahun, tanah Jakarta turun sekitar 1 meter.

Amblesnya sebagian ruas Jalan R.E. Martadinata, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu hanyalah salah satu indikasi yang patut diperhatikan. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa tahun 2030 Jakarta terancam tenggelam permanen. Perluasan genangan air dan banjir rob menjadi faktor. Beberapa wilayah di Jakarta telah melanggar tata ruang dengan mengalihkan fungsi lahan terbuka menjadi bangunan sehingga memperluas daerah banjir. Sebagai contoh, bangunan Mega Mall Pluit, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kawasan Pantai Indah Kapuk, kawasan Kemang, Kelapa Gading, Senayan, Hotel Mulia, Plaza Senayan, Sudirman Place, Mall Taman Anggrek, Podomoro City, dan wilayah lain.

“Bayangkan saja di Jakarta terdapat 364 pusat perbelanjaan dan 57 mal. Banyak pusat perbelanjaan dan mal yang melanggar tata ruang. Banjir juga akibat 80 persen dari 6.000 ton sampah per hari yang masuk ke saluran air dan mengakibatkan saluran tersumbat,” tegas dia. Pada tahun 2008, sebanyak 514 RW di 151 kelurahan terendam banjir dengan korban yang dirawat sedikitnya 542 orang dan pengungsi 2.451 jiwa. Diperkirakan, pada awal tahun 2010 akan terjadi penambahan antara 5-10 persen wilayah yang terkena banjir.

 

Artikel lain yang cukup mencengangkan : Peneliti teknik lingkungan Universitas Indonesia, Firdaus Ali, memperkirakan Jakarta akan tenggelam lantaran penyedotan air tanah secara berlebihan di Jakarta sehingga permukaan tanah Ibu Kota semakin turun. “Tidak hanya tenggelam, kita juga akan kehausan,” kata doktor lulusan University of Wisconsin ini.
Perhitungan tersebut berdasarkan data penurunan permukaan tanah di Jakarta yang rata-rata 10 sentimeter setiap tahun. Di Jakarta Barat, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakarta Pusat, dalam 8 tahun terakhir turun 80 sentimeter. “Jika kondisi ini terus berlanjut, permukaan tanah Jakarta akan berada di bawah permukaan air laut,” ujar Firdaus.

 

Kondisi Terburuk : Perubahan Iklim + Banjir Akibat Hujan + Banjir Akibat Luapan Air Laut

Jakarta sudah pasti akan mengalami banjir besar, ditambah dengan iklim yang tidak menentu saat ini, 80 persen ibukota bisa tergenang air. Ini tidak hanya akibat air hujan yang tidak bisa terserap tanah, karena tanahnya sudah menjadi beton semua. Selain itu juga air masuk ke kali tidak bisa terbuang ke laut. Sementara laut mengalami pasang akibat perubahan iklim tersebut. ”Lagi-lagi akibat perubahan iklim air laut sangat potensi masuk ke darat, yang juga dikenal dengan banjir rob. Jadi Jakarta ini akan menjadi tempat banjir akibat hujan, dan juga akan terkena akibat banjir akibat luapan air laut.

 

Nah…Uda sedikit gw jabarin beberapa penyebab jakarta banjir. Tinggal dari kita + pemerintah aja mau gmn nanggepinnya. Sebenarnya, rumor ini bukan hal baru. Sudah banyak artikel yang memuat tentang “Jakarta Tenggelam”. Ga hanya taun ini aja,tapi uda dari beberapa taun yg lalu. Tetapi ga tau kenapa, kaya’nya cuma berlalu gitu aja. Toh, tetep juga kan pembangunan gedung, hotel, apartemen atau mall tetap ada dimana-mana. Bener ga ????

 

Ada kabar bahwa Pemerintah DKI Jakarta berencana menaikkan tarif air tanah untuk rumah tangga mewah hingga industri 6-16 kali lipat dari sebelumnya. Kenaikan ini untuk mengurangi konsumsi masyarakat terhadap air tanah yang makin eksploitatif. Itu bisa jadi salah satu jalan keluar untuk mengurangi potensi banjir di Jakarta.

 

Nie mungkin ada sedikit solusi yang bisa membantu mengurangi kemungkinan banjir. Mudahan aja bisa membantu,amien :

 

1. Kurangi Konsumsi Listrik yang Berlebihan.

Hal ini bisa mengurangi dampak negatif perubahan iklim

 

2. Gunakan Air Seperlunya.

Ya inget inget aja penjelasan di atas, air diambil secara “brutal”, tanah jd kosong, permukaan tanah jadi turun, banjir dah. Simple-nya sich gitu gan

 

3. Gunakan Kendaraan Bermotor Seperlunya.

Polusi dari kendaraan bermotor secara berlebihan mempercepat timbulnya perubahan iklim secara drastis. Ya klo kantor ato tempat kerjanya deket, jalan kaki aja yee…Selain ga macet, itung itung sehat lah. Tapi klo jauh, ya naek kendaraan aja, drpd mpe kantor gempor, stroke gara gara jalan,hehehehehe…..

 

4. Go Green.

Simple koq. 1 orang nanem 1 pohon. Klo ada lahan/tanah di depan rumah/pekarangan, tanem dech 1 pohon aja. Mungkin klo mau diliat cuma 1 pohon, ya ga bakal ngaruh. Tapi, klo yang sadar akan hal ini 100 orang, lumayan tuch 100 pohon. Kan pohon bisa nyerap air tuch,ya itung itung “gantiin” daerah penyerapan di jakarta yang makin hilang entah kemana. Trus juga, misalnya ada program program untuk menanam seribu pohon tuch, dimana aja dah, ikut deh. Itung itung amal + ngamanin Jakarta dari banjir. Klo kantor deket, jalan kaki aja ke kantornya. Klo ga terlalu jauh, pake sepeda. Sekarang make motor, mobil, busway, angkot, ojek, kopaja, mikrolet sama aja gan, macet….Tp klo jauh, ya pake kendaraan bermotor dech dengan sayarat berangkanya rada pagian, biar ga kena macet.

 

Ya semoga aja dari artikel ini, kita makin paham kenapa Jakarta banjir mulu + sadar kita mesti ngapain biar Jakarta klo banjir ga parah parah banget….

^^,v

(dikutip dari berbagai sumber)

~ by jarwoo on January 10, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.